Cerita Dari Seorang Ibu

nsa5

 

Mendirikan Cikal 18 tahun yang lalu, bukan pengalaman pertama saya sebagai pendidik perempuan, karena sejak beberapa tahun sebelumnya saya sudah mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Tetapi mendirikan Cikal jadi pengalaman pertama saya mendidik anak sendiri di sekolah sekaligus anak begitu banyak sahabat dan kenalan baru yang kemudian menjadi bagian dari "keluarga besar". Hingga sekarang, kata keluarga jadi bagian yang sangat penting dari peran ini - lebih dari sekedar tulisan "Refleksi Cinta Keluarga" dibawah logo kami.

Menjadi ibu Kepala Sekolah sekaligus Ibu anak-anak di Cikal adalah bagian dari perjalanan hidup yang paling saya syukuri. Memikirkan kekhawatiran saat melepas anak berada di lingkungan berbeda, saya jalani sejak Fathi memulai kelas Adik-Adik di Cikal Kemang tahun 1999. Juga saat Nishrin pergi dalam perjalanan budaya ke Korea dengan kursi roda beberapa tahun lampau, sampai Nihlah memulai Middle School di Cikal Setu beberapa bulan lalu. Merasakan malu dan sekaligus lucu, saat anak saya (yang menolak disebut namanya 😊) lupa memakai sepatu ke sekolah karena terburu-buru dan sebagai konsekuensi harus mengikat kakinya dengan koran terbaru. Melakukan hal yang disesali masih sering saya alami, misanya saat tidak bisa hadir assembly karena perlu mengisi acara Cikal di kampus yang berbeda pada jadwal yang sama. Saya sadar betul, menjadi orangtua (dan pendidik) adalah peran yang penuh cobaan sekaligus penuh harapan.

 

IMG_3820

 

Perjalanan setiap keluarga dan bawaan setiap anak pasti berbeda, tetap sejak awal pendiriannya, Cikal percaya pada satu cita-cita. Mewujudkan komunitas pelajar sepanjang hayat yang berkontribusi pada perubahan pendidikan. Kami ingin setiap anak, dan orang disekelilingnya, mengembangkan Cikal 5 Stars Competencies, karena kompetensi inilah yang akan mempersiapkan kita menghadapi masa depan.

Kemapanan emosional, moral dan spiritual akan menjadi semakin penting saat 18 tahun mendatang anak-anak kita harus menghadapi perdebatan tentang rekayasa genetika atau berbagai dilema dunia. Wawasan yang luas dan kesehatan jiwa raga selalu menjadi modal saat bersosialisasi dalam keragaman dan menghadapi pola hidup yang tidak seragam. Pelajar yang merdeka menjadi penentu pengembangan diri yang utuh, dari prasekolah sampai kuliah bahkan karirnya nanti. Pemikir yang terlatih dan efektif, memungkinkan semua anak kita menjadi pemecah masalah bukan pembuat masalah, inovator bukan "follower" di era digital dengan segala perkembangan informasi maupun ekonomi. Menjadi anggota berdaya dalam masyarakat dunia yang adil, berkelanjutan dan damai adalah bagian tak terpisahkan dari mengapa Cikal berdiri dan kita semua ada disini. Saya paham betul, ini semua cita-cita besar yang kadang sulit dibayangkan dan sukar dipraktikan, terutama bagi orangtua dengan anak prasekolah yang baru saja belajar berjalan. Namun, di ulang tahun Cikal ke-18 ini, kami bangga luar biasa karena sudah menjadi saksi dari perkembangan begitu banyak anak dan keluarga yang menjadi bukti hidup implementasi Cikal 5stars competencies. Anak luar biasa yang merasa diterima dan didukung lingkungannya. Anak hasil pendidikan yang paham konsep essensial, bukan sekadar hafalan tidak relevan. Lulusan yang memahami bahwa ia terus menunjukkan kemajuan dan proses belajarnya saling berhubungan. Anak yang memilih tantangan, bukan sekadar beban. Anak Indonesia yang mengoptimalkan konteks komunitas, sehingga tahu betul manfaat belajar bukan hanya untuk nilai dan diri sendiri.

nsa2

 

Di Cikal kita tidak sendiri, setelah 18 tahun, kami adalah salah satu jaringan prasekolah hingga sekolah menengah dan pendidikan guru yang tumbuh paling pesat di negeri ini. Bagian paling menyenangkan dari keberadaan kita di Cikal adalah begitu banyak teman seperjalanan yang bermakna. Kita hadir bukan saja untuk anak masing-masing tapi secara sadar memilih komunitas ini sebagai tempat tumbuh anak-anak kita bersama. Sebagai pendidik, saya mempelajari begitu banyak hal dari kehormatan berinteraksi dengan ribuan murid dan sesama pendidik di Cikal. Sebagai ibu, saya menjawab begitu banyak pertanyaan dengan mengamati apa yang dilakukan oleh ribuan ayah, ibu dan sesama orangtua di Cikal. Terimakasih atas semuanya...Segala cara dan cerita yang saling kita bagi, setiap keberhasilan yang kita rayakan dan kekurangan yang kita refleksikan. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memudahkan setiap langkah kita menuju cita-cita. Semoga upaya kita melakukan kebaikan menjadi keberkahan yang tak berkesudahan untuk semua anggota keluarga dan komunitas Cikal. Terimakasih telah menjadi bagian berarti dari Cikal yang sama-sama kita cintai.

Salam Hangat,
Najelaa Shihab
Head of School