Festival Budaya Sekolah Cikal dan Itsukaichi High School Eratkan Persahabatan Indonesia dan Jepang

Jakarta, Sekolah Cikal. Indonesia-Jepang dikenal sebagai dua negara yang bersahabat, dan senantiasa membangun hubungan kerjasama dan pertukaran kebudayaan. Dalam kondisi pandemi, cara sederhana untuk tetap mengeratkan hubungan dua negara adalah dengan menggelar pertukaran pelajar dan festival budaya secara daring.


Sebagai sekolah yang selalu mendorong murid memahami dan menghargai keberagaman melalui pengalaman belajar bermakna, Sekolah Cikal Setu kembali menggelar festival budaya dan pertukaran pelajar tahunan dengan Itsukaichi High School pada 17 Maret 2021.


(Momen pembukaan festival budaya- Program Pertukaran Pelajar daring Sekolah Cikal dan Itsukaichi High School pada 17 Maret 2021. Doc. Sekolah Cikal)


Pertukaran Pelajar, Eratkan Persahabatan Dua Negara


Sebagai Koordinator kegiatan pertukaran pelajar untuk Sekolah Cikal, Mimin Sri Wahyuni mengatakan bahwa Cultural Exchange Program, atau lebih sering disebut dengan CEP, merupakan program kerjasama antara Sekolah Cikal dengan sekolah partner di Jepang dan Korea Selatan.


“Program ini merupakan salah satu upaya memberikan pengalaman belajar bermakna pada murid tentang keberagaman budaya dan upaya mengeratkan persahabatan dua negara antara Indonesia dan Jepang setiap tahunnya sejak 2016. Di kegiatan ini, murid SMP dan SMA Cikal Setu melakukan kunjungan belajar dan juga menerima kunjungan belajar selama kurang lebih satu minggu.” jelasnya ketika dihubungi oleh Humas Cikal pada (22/03)


(Murid Sekolah Cikal mengabadikan momen belajar menulis dengan huruf Kanji dengan murid Itsukaichi High School secara daring. Doc. Sekolah Cikal)


Kegiatan pertukaran budaya antara pelajar Indonesia dari Sekolah Cikal Setu dan Jepang dari Itsukaichi High School diisi oleh berbagai kegiatan setiap tahunnya, baik melakukan forum diskusi, belajar bersama dan pameran budaya.

“Secara spesifik, tujuan pembelajaran bermakna yang dituju adalah agar murid mendapatkan pengalaman belajar dalam konteks yang baru dan unik di luar komunitas sekolah serta dapat membangun hubungan positif (persahabatan) dengan pelajar lainnya dalam konteks internasional.” tambahnya.

Sejak hadirnya pandemi di tahun 2020, pelaksanaan pertukaran budaya dilakukan secara daring dan menyesuaikan jam waktu yang berbeda antara Indonesia dan Jepang.

“Kami mencoba mencari cara bagaimana agar program ini tetap bisa dilakukan pada masa pandemik, sehingga melakukannya secara online merupakan pilihan yang harus dibuat.” tutur Mimin.


Festival Budaya, Hadirkan Beragam Proyek Bermakna


Di tahun ini, pelaksanaan pertukaran pelajar dijalankan dengan pelaksanaan festival budaya dengan membuat proyek kolaborasi budaya.


“Hal unik atau berbeda pada acara tahun ini adalah kami membuat acara ‘CEP Cultural Festival’ dimana setiap grup membuat proyek budaya, dan memamerkan hasil proyek mereka kepada seluruh murid dan guru dari Sekolah Cikal dan Itsukaichi. Proyek kali ini meminta murid dua negara untuk saling belajar budaya masing-masing, dengan pilihan budaya yang mereka pilih sendiri.” ucap Mimin Sri Wahyuni


Proyek-proyek yang dipilih oleh masing-masing grup murid bervariasi dan unik. Ada yang saling belajar masakan khas, permainan tradisional, membuat baju dengan gaya dari masing-masing negara, menyanyi, membuat pola kain batik, dan berkarate.


(Murid-murid Itsukaichi High School belajar membuat pola kain batik secara daring bersama murid Cikal Setu. Doc. Sekolah Cikal)


Salah seorang guru dari Itsukaichi High School, Miyul Hong menyatakan bahwa konsep pertukaran pelajar dan festival budaya daring seperti yang dijalankan oleh Sekolah Cikal Setu dan Itsukaichi High School dapat menjadi sebuah model pertukaran budaya baru di era teknologi dan pandemi.

“Banyak sekali manfaat yang hadir dari model pertukaran pelajar seperti ini, murid-murid dapat bertukar budaya dan mengembangkan berbagai potensi dan kemampuan baik itu berkomunikasi, kreativitas, dan kolaborasi dua budaya. Pertukaran pelajar daring ini terasa sekali manfaatnya khususnya mengeratkan persahabatan dua negara (Indonesia dan Jepang). Murid-murid tidak akan pernah lupa akan itu.” tutur Miyul Hong.

Bagi salah satu murid kelas 11 Sekolah Cikal Setu, Alifa Shabira, pengalaman acara festival dan pertukaran budaya dua negara ini tidak terlupakan dan menumbuhkan semangat untuk berkolaborasi dan mempelajari budaya yang berbeda.


(Penampilan Proyek Pengenalan Alat Musik Tradisional dan Tarian Tradisional dari Jepang dan Indonesia di sesi Festival Budaya pada (17/03). Doc. Sekolah Cikal)


“Bagiku, aku memperoleh banyak pengalaman bermakna dengan mengikuti kegiatan ini. Aku belajar membangun kemampuan berkomunikasi, dan berkolaborasi dengan teman-teman yang berbeda budaya denganku. Selain itu, tentu, aku pun belajar untuk menghargai perbedaan budaya dan belajar dari budaya yang berbeda itu. Sungguh menyenangkan!” tutur Alifa Shabrina, murid Sekolah Cikal Setu.

Dengan pola kegiatan bertemakan pemuda, Sekolah Cikal Setu dan Itsukaichi High School dalam hal ini telah memberikan banyak waktu dan ruang bagi murid untuk merasakan pengalaman belajar bermakna dan bermanfaat bagi kedua negara, serta menumbuhkan banyak keterampilan dalam diri murid, baik berkomunikasi, berkolaborasi, bernegosiasi dan menyelesaikan masalah diaplikasikan dalam proyek yang sedang dijalankan. (*)

ENROLL NOW