Murid SD Cikal Surabaya Belajar Makna Sistem dan Identitas Budaya melalui Kunjungan Lapangan ke Bali

Murid SD Cikal Surabaya Belajar Makna Sistem dan Identitas Budaya ke Bali


Durasi Waktu Baca : 5 Menit


Surabaya, SD Cikal Surabaya. SD Cikal Surabaya, khususnya murid kelas 6, melakukan perjalanan kunjungan lapangan (Overnight Field Trip/OFT) ke Bali sebagai rangkaian memperkaya pengetahuan kontekstual untuk mendukung pembelajaran mengenai sistem (sosial, budaya, ekonomi, lingkungan) dan identitas budaya dalam kehidupan masyarakat dan mendukung persiapan Primary Years Program (PYP) Exhibition. Perjalanan yang berlangsung selama 3 hari di bulan November 2025 lalu ini mengintegrasikan 5 cara belajar SD Cikal Surabaya di kelas 6. 



(Perjalanan kunjungan lapangan SD Cikal Surabaya ke Bali. Dok.Cikal)


Seperti apa gambaran penerapan 5 Cara Cikal dalam perjalanan belajar lapangan yang diikuti oleh murid SD Cikal Surabaya ke Bali? Dan penguatan kompetensi diri apa saja mengacu kepada Kompetensi 5 Bintang Cikal dalam setiap murid? Selengkapnya berikut ini.




Dua Misi yang Lekat Dengan Kehidupan Nyata


Ely Virgijanti, Koordinator OFT kelas 6 SD Cikal Surabaya, menyatakan bahwa perjalanan belajar dengan pendekatan kunjungan lapangan langsung ini ditujukan untuk memberikan konteks nyata pembelajaran di kelas yang erat dengan nilai dan kepercayaan, nilai budaya, sosial, kesenian, ekonomi hingga lingkungan dan menjadi pemantik inspirasi bagi murid untuk memahami struktur sosial yang terkait satu sama lain di kehidupan.


“Perjalanan ini memiliki 2 tujuan utama, pertama sebagai pengalaman belajar secara langsung tentang bagaimana nilai nilai dan kepercayaan tampak dalam kehidupan sehari hari dari segala aspek budaya: kehidupan sehari hari, sosialisasi, kesenian, mata pencaharian dan  aspek aspek lainnya. Kedua, sebagai pemantik PYPX, murid akan belajar, melihat dan memiliki pengalaman secara langsung bagaimana struktur atau sistem diterapkan atau tampak dalam kehidupan sehari hari: sistem sosial, sistem ekonomi dan sistem sistem dalam segi kehidupan masyarakatnya dan keterkaitannya satu sama lain.” jelasnya.

Para murid kelas 6 SD Cikal Surabaya melakukan kunjungan ke beberapa lokasi yang erat kaitannya dengan kekayaan identitas budaya dan cerminan sistem (ekonomi, sosial, dan lingkungan) dalam kehidupan, antara lain, Museum Braja Sandhi, Jatiluwih, Desa Kedongan, dan Konservasi Penyu.

Aghata Rosiani, Homeroom kelas 6 SD Cikal Surabaya menuturkan bahwa seluruh destinasi yang dipilih oleh SD Cikal Surabaya mencerminkan upaya Cikal Surabaya mendorong murid memahami integrasi ilmu pengetahuan dan relevansinya dengan dunia nyata sejak dini.

“Pembelajaran lapangan yang diikuti murid-murid ini terintegrasi lintas disiplin, mencakup aspek sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan, sehingga murid tidak hanya memahami konsep secara teoritis tetapi juga melihat relevansinya dalam dunia nyata.” ucapnya. 

Berikut deskripsi singkat misi pembelajarannya dan tujuan kunjungan lapangan:


  1. Museum Braja Sandhi : murid-murid belajar mengenai sejarah Bali dan bagaimana kehidupan sehari hari Bali dari masa ke masa.

  2. Jatiluwih : Mengunjungi area persawahan yang menjadi UNESCO heritage, para murid mempelajari dan menghubungkan konteks sistem Subak (sistem manajemen pengairan sawah (irigasi) secara tradisional, adil, dan demokratis, berlandaskan filosofi Tri Hita Karana (keharmonisan manusia, alam, dan Tuhan) yang dijalankan dengan kehidupan masyarakat Bali. 

  3. Desa Kedongan : para murid melakukan wawancara Nelayan di Jimbaran, sebagai upaya memahami makna mata pencaharian dilakukan dan kehidupan nelayan serta sistemnya di Bali.

  4. Konservasi Penyu : murid-murid belajar memahami nilai cinta alam dan hormat kepada Alam diterapkan melalui sistem konservasi penyu.

Baca Juga : SD Cikal Surabaya Belajar Makna Migrasi melalui Overnight Field Trip Banyuwangi




Gambaran Penerapan 5 Cara Belajar Cikal dalam OFT Bali 

Homeroom SD Cikal Surabaya, Aghata Rosiani menjelaskan bahwa penerapan 5 Cara Cikal dalam konteks perjalanan kunjungan lapangan mencakup sebagai berikut:

  • Memanusiakan Hubungan (Compassionate Connection)
    Murid membangun koneksi yang penuh empati dengan lingkungan dan komunitas lokal, misalnya saat mengamati kehidupan nelayan di Kedonganan atau memahami nilai gotong royong dalam sistem Subak. Para murid belajar untuk tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan dan menghargai perspektif orang lain.

  • Memahami Konsep (Comprehensive Concept)
    Murid dibiasakan untuk mengembangkan pemahaman konseptual yang utuh tentang identity, culture, serta local distribution dan decision making. Pengalaman di berbagai lokasi membantu mereka melihat keterkaitan antar konsep secara menyeluruh, tidak terpisah sebagai pengetahuan parsial.

  • Membangun Keberlanjutan (Constructive Continuity)
    OFT menjadi bagian dari kesinambungan pembelajaran yang terhubung dengan proses sebelum, saat, dan sesudah kegiatan, terutama dalam persiapan PYP Exhibition. Pengetahuan yang dibangun selama perjalanan menjadi fondasi untuk inquiry yang lebih dalam.

  • Memilih Tantangan (Challenging Choices)
    Dalam OFT, murid seringkali dihadapkan pada berbagai situasi yang menantang mereka untuk berpikir dan mengambil keputusan, baik dalam konteks pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari selama perjalanan. Hal ini melatih tanggung jawab, pertimbangan etika, dan kemampuan memecahkan permasalahan (problem solving).

  • Memberdayakan Konteks (Community Context)
    Pembelajaran berlangsung dalam konteks nyata masyarakat, sehingga murid memahami bagaimana budaya, lingkungan, dan sistem sosial saling mempengaruhi. Hal ini membantu mereka melihat relevansi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari serta peran mereka sebagai bagian dari masyarakat global.

Baca Juga : Kunjungan Lapangan Belajar Transisi Teknologi, Murid SD Cikal Surabaya Asah 10 Kompetensi Diri




Penguatan 4 Kompetensi Diri Murid SD Cikal Surabaya

Dalam praktik kunjungan lapangan dan berinteraksi dengan komunitas lokal dan masyarakat Bali, Rosi menuturkan bahwa para murid SD Cikal Surabaya diasah dan dikuatkan pengembangan 4 kompetensi dalam kerangka 15 Kompetensi Cikal yang diharapkan tumbuh dalam diri murid agar siap menghadapi tantangan kehidupan, antara lain, Kemampuan Reflektif, Kemampuan Berpikir Kritis, Kemampuan Berpikir Terbuka, dan Kemampuan Berinovasi.

“Melalui kegiatan OFT, murid mengembangkan beberapa kompetensi kunci dalam kerangka 15 Kompetensi Cikal, di antaranya Reflektif (Reflective), Berpikir Kritis (Critical Thinking), Berpikiran Terbuka (Open-minded), dan Inovatif (Innovative).  Kompetensi ini menunjukkan bahwa pembelajaran tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga pada kemampuan berpikir dan bersikap dalam menghadapi tantangan kehidupan nyata.” ucapnya.  

Berikut gambaran upaya SD Cikal Surabaya menguatkan 4 kompetensi tersebut:

  1. Murid menjadi reflective melalui proses jurnal dan diskusi yang membantu mereka memaknai pengalaman belajar secara mendalam. 

  2. Mereka juga menunjukkan critical thinking saat menganalisis keterkaitan antara budaya, sumber daya, dan pengambilan keputusan di masyarakat. 

  3. Sikap open-minded berkembang ketika murid berinteraksi dengan perspektif dan praktik budaya yang berbeda dari keseharian mereka. 

  4. Selain itu, murid didorong untuk menjadi innovative dengan mengolah ide, pengalaman, dan temuan mereka menjadi gagasan baru yang relevan, khususnya sebagai bagian dari persiapan PYP Exhibition.

Penguatan 4 Kompetensi tersebut juga diasah dalam murid-murid dengan kebutuhan khusus yang turut serta dalam perjalanan kunjungan lapangan ini, Rosi menambahkan bahwa kunjungan lapangan SD Cikal Surabaya kelas 6 berlangsung dengan inklusif, artinya setiap murid dengan kebutuhan khusus turut serta untuk mengasah perkembangan kemandirian, interaksi sosial dan kepercayaan diri murid.

“Kegiatan OFT di Cikal bersifat inklusif dan memberikan kesempatan bagi seluruh murid, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK), untuk terlibat dalam pengalaman belajar yang bermakna. Pendampingan dilakukan secara adaptif melalui dukungan guru dan penyesuaian strategi pembelajaran sesuai kebutuhan murid. Partisipasi dalam OFT memberikan dampak positif terhadap perkembangan kemandirian, interaksi sosial, serta kepercayaan diri murid, sekaligus memastikan bahwa tujuan pembelajaran tetap dapat dicapai secara optimal.” imbuhnya. (*)

Baca Juga : Cerita Vira dan Aimee, Angkat Isu Pendidikan dan Raih Juara 2 di Korea Youth Summit 2026




Informasi Cikal Support Center


Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs 




Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal 

  • Narasumber : 

    • Ibu Ely Virgijanti (Koordinator OFT Kelas 6 SD Cikal Surabaya)

    • Ibu Agatha Rosiani (Homeroom Kelas 6 SD Cikal Surabaya)

  • Editor : Layla Ali Umar 

  • Penulis : Salsabila Fitriana


I'M INTERESTED