5 Aktivitas Sederhana yang Dapat Mengasah Empati Anak Sejak Usia Dini

Durasi Waktu Baca : 3 Menit, 35 Detik




Jakarta, Rumah Main Cikal. Menumbuhkan empati pada anak sejak usia dini tentu dapat dilakukan melalui hal-hal kecil dan sederhana yang lekat dalam kehidupan anak. Tanpa disadari mendengar orang tua bercerita, atau membangun kebiasaan mengucapkan terima kasih kepada anak ternyata dapat mengasah empatinya. 


Pendidik Rumah Main Cikal, Ina Winangsih menyebutkan bahwa terdapat 5 aktivitas sederhana yang mengandung manfaat menumbuhkan dan mengasah empati anak sejak usia dini sebagai berikut, 

  1. Bermain Peran


Anak-anak usia dini senang sekali mempraktikkan kegiatan bermain peran. Kegiatan ini memiliki banyak manfaat yang dapat ditumbuhkan dalam pengembangan diri anak usia dini, baik itu mengasah kesiapan untuk masuk sekolah, bertemu orang baru, mengelola emosi dan menumbuhkan empati. 


(Rumah Main Cikal memberikan pendampingan belajar sambil bermain dengan pendekatan personalisasi. Dok. Rumah Main Cikal) 


Bagi Ina, saat bermain peran, anak-anak akan belajar memposisikan dirinya sebagai orang lain dan merasakan apa yang dirasakan. Oleh karena itu, bermain peran menjadi salah satu kegiatan yang bermakna dan dapat diterapkan oleh guru dan anak, atau orang tua dan anak. 


“Saat bermain peran, anak dapat memposisikan dirinya sebagai orang lain atau objek lain dan mengeksplorasi karakter yang dimainkan. Tentu hal ini akan baik dalam proses pengembangan dan upaya menumbuhkan serta mengasah empati anak sejak dini.” ucap pendidik Rumah Main Cikal ini. 


Baca Juga : Pahami Screamfree Parenting, Pola Asuh Tanpa Nada Tinggi atau Teriakan!

  1. Bermain Bersama Teman Sebaya 

Bermain bagi anak-anak adalah dunia yang paling menyenangkan, karena sebenarnya dalam bermain itu pula mereka belajar banyak hal. Dalam momen bermain bersama teman sebaya, anak-anak di usia dini tentu berupaya mengenal dan memahami karakter teman sebayanya, hal ini tentu menjadi salah satu cara yang baik dalam mengasah empati anak.  


“Ketika anak bermain dengan teman sebayanya, anak dapat memahami bagaimana ia dapat menjalin komunikasi dengan temannya. Anak dapat menumbuhkan empatinya melalui kejadian apa saja yang dapat terjadi ketika bermain.” tutur Ina. 

  1. Merawat Hewan Peliharaan atau Tanaman

Bagi Ina, apabila di rumah anak-anak usia dini memiliki hewan peliharaan dan dikenalkan dengan kegiatan berkebun oleh orang tuanya, maka hal ini akan menjadi salah satu pendekatan baik untuk menumbuhkan karakter empati dalam diri anak.

“Apabila di rumah terdapat hewan peliharaan atau tanaman tertentu yang dirawat, ajak anak untuk terlibat dalam merawatnya. Hal ini dapat membantu anak berperan aktif melakukan sesuatu untuk menjaga dan memberikan dampak baik pada hewan atau tanaman yang ia rawat.” ucapnya. 

Baca Juga : Bolehkah Orang Tua Bersedih di Hadapan Anak? Simak Dulu Sisi Positif dan Negatifnya!

  1. Menjaga dan Melakukan Aktivitas Kebersihan Bersama Orang Tua

Anak-anak usia dini memiliki kemampuan menerapkan ulang hal-hal baik yang dilihatnya atau diamatinya, salah satunya dengan kebiasaan menjaga kebersihan yang dicontohkan oleh orang tua. Dalam hal ini, Ina menuturkan bahwa apabila anak terbiasa terlibat dalam aktivitas menjaga kebersihan lingkungan, karakter positif kepedulian dan empati akan semakin bertumbuh dalam dirinya.  

“Anak dapat dilibatkan untuk membersihkan lingkungan rumah. Selain untuk menjadikan lingkungan lebih bersih dan sehat, anak juga akan lebih mengenali lingkungan sekitarnya dan dapat mempelajari dampak secara langsung apabila anak peduli terhadap lingkungan sekitarnya.” ucapnya. 

  1. Mengapresiasi Kehadiran Pendamping, Pekerja Rumah Tangga (PRT) atau Pekerja di Sekitar Rumah

Kegiatan mengapresiasi kehadiran pendamping, pekerja rumah tangga dan pekerja di sekitar rumah atas apa yang mereka lakukan, misalnya memasak, membersihkan rumah, berkebun juga dapat menjadi aktivitas sederhana yang mengasah empati anak di usia dini. Kebiasaan mengapresiasi atau sekadar mengucapkan terima kasih dapat menumbuhkan rasa  menghargai dan mengapresiasi keberadaan mereka.

“Anak dapat diajak untuk menghormati dan menyayangi orang sekitar yang banyak membantunya. Dengan memahami peran pendamping, PRT, atau pekerja di sekitar rumah, anak dapat lebih mengapresiasi dan bersikap empati kepada mereka. Anak akan paham bahwa beberapa orang memiliki peran tertentu untuk membantunya.” tukas Ina.

Nah, dari kelima aktivitas di atas manakah yang sudah dilakukan oleh Papa dan Mama di rumah? Semoga kita selalu bisa memaknai hal-hal dan aktivitas sederhana sebagai bagian dari upaya menanamkan praktik baik kepada anak-anak sejak dini, ya.(*)

Baca juga : 3 Aspek Penting Saat Memilih Prasekolah yang Tepat Bagi Anak




Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal bagi anak berkebutuhan khusus melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs (tim Customer Service Cikal)




Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal 

  • Narasumber : Ina Winangsih

Ina Winangsih, atau yang akrab disapa Tante Ina  merupakan pendidik di Rumah Main Cikal. Ia merupakan lulusan dari jurusan PGPAUD di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di jenjang S1 dan baru menyelesaikan pendidikan S2 double degreenya di jurusan PAUD UPI dan National Dong Hwa University (NDHU), Taiwan. 

Sejak tahun 2014, Tante Ina memiliki minat pada bidang pendidikan bencana untuk anak secara akademis maupun praktis. Tante Ina ingin sekali bisa berperan (sekecil apapun) untuk dapat meningkatkan kapasitas anak maupun lingkungan sekitar untuk memitigasi ancaman bencana.

  • Editor : Layla Ali Umar 
  • Penulis : Salsabila Fitriana

I'M INTERESTED