Orang tua, Terapkan 3 Cara Ini untuk Cegah Anak dari Aksi Perundungan!

Durasi Waktu Baca : 3 Menit, 40 Detik 


Jakarta, Sekolah Cikal. Keinginan seorang anak melakukan aksi perundungan terhadap anak lainnya ternyata dapat disebabkan oleh faktor eksternal yang mencakup pola pengasuhan orang tua yang agresif dengan nuansa kekerasan sebagai upaya pendisiplinan anak, dan juga modelling dari setiap pola orang tua bersikap. 


Baca Dulu : Penyebab dan Dampak Perundungan Bagi dan Pada Anak 


Psikolog Rendra Yoanda dari Sekolah Cikal Amri Setu Jakarta Timur menuturkan bahwa penting sekali bagi para orang tua memahami dan menerapkan pola pengasuhan yang tepat terhadap anak tanpa kekerasan serta penerapan pola orang tua bersikap, beraksi, dan berucap dengan baik di rumah, atau dengan orang lainnya. 


Ia juga menyebutkan beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orang tua sebagai upaya pencegahan dorongan anak melakukan aksi perundungan di sekolah terhadap temannya, sebagai berikut. 


  1. Terapkan Pola Penyelesaian Masalah Tanpa Kekerasan 


Rendra menekankan bahwa orang tua merupakan model pertama bagi anak-anak dalam menyelesaikan masalah. Apa yang anak lihat dari orang tua, akan ia terapkan dalam kesehariannya. Oleh karena itu, ia merekomendasikan apabila orang tua menghadapi masalah di hadapan anak, alangkah baiknya menerapkan penyelesaian masalah yang sehat, adaptif dan tanpa kekerasan.


“Bagi para orang tua yang ada di luar sana, kita adalah model pertama bagi anak-anak kita dalam menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, kita perlu mencontohkan cara penyelesaian masalah yang adaptif dan tidak berkekerasan. Hal yang perlu selalu kita ingat adalah apa yang kita lakukan, akan ditiru oleh anak-anak kita.” ucap Rendra tegas. 

  1. Bangun Komunikasi yang Sehat di Rumah 


Di rumah, anak-anak menempatkan orang tua sebagai zona nyamannya untuk berbagi cerita, atau mengekpresikan suara bahkan hingga perasaan mereka. Dalam peran tersebut, orang tua harus dapat menempatkan diri dan memberikan ruang bagi anak untuk menyuarakan setiap hal yang ingin disampaikan tanpa menghakimi. 


“Hal kedua yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah membangun komunikasi yang sehat di rumah. Berikan kesempatan pada anak untuk didengarkan dan menyuarakan pikiran serta perasaan mereka. Fasilitasi dan berikan mereka ruang untuk mengelola rasa frustrasi yang muncul. Bantu anak kenali emosi-emosi yang mereka rasakan. Lalu, diskusikan bersama-sama metode atau cara yang lebih adaptif untuk mengekspresikan emosinya tanpa merugikan diri sendiri ataupun lingkungan sekitarnya.” ujarnya. 


Baca juga : Pahami Screamfree Parenting, Pola Asuh Tanpa Nada Tinggi atau Teriakan!

  1. Amati Secara Berkala Apabila Terdapat Perubahan Perilaku Anak 


Hal terakhir yang direkomendasikan oleh Rendra adalah melakukan pengamatan dan pengawasan. Apabila terdapat perubahan perilaku anak, rutinitas atau bahkan indikator lainnya yang disebabkan oleh hal-hal yang tidak ia ceritakan sebelumnya, maka orang tua lagi-lagi harus menjadi zona nyaman anak dengan mendengarkan dan mendiskusikan perubahan perilaku tersebut. 


“Orang tua dapat memerhatikan perubahan-perubahan perilaku yang terjadi pada anak. Lihat apakah rutinitas anak kita berubah dari kebiasaannya, seperti pola tidur atau selera makannya. Perubahan perilaku dan rutinitas bisa menjadi indikator adanya masalah yang sedang mereka hadapi. Dengarkan dan diskusikanlah masalah tersebut bersama-sama dengan anak kita. Berikan mereka kesempatan untuk mencoba mencari solusi, atau setidaknya kita bisa memberikan mereka 2-3 pilihan strategi atau solusi yang bisa mereka gunakan. Biarkan mereka memilih.” jelas Psikolog Klinis Anak dan Remaja di Sekolah Cikal yang dikenal berbasis kompetensi terbaik Indonesia ini. 


Apabila terdapat potensi perundungan, baik ia sebagai korban atau bahkan pelaku, Rendra pun merekomendasikan orang tua untuk bergerak menghentikannya baik dengan berkolaborasi dengan pihak berwenang. 


“Apabila terdapat potensi perundungan, hentikanlah jika dimungkinkan. Jika tidak, laporkanlah pada pihak yang berwenang dan memiliki kemampuan untuk menghentikan perundungan tersebut.” tutupnya. 


Di tengah maraknya kasus perundungan, orang tua dalam hal ini perlu semakin waspada mendampingi, mendengar, mengamati, dan menjaga anak-anak dari kemungkinan adanya potensi perundungan, baik sebagai korban, pelaku dan atau saksi. 


Di Sekolah Cikal, kehadirkan House Group menjadi salah satu cara Cikal mengakomodasi setiap anak dari berbagai jenjang level untuk membangun kolaborasi, kerjasama dan juga interaksi bermakna. Orang tua dan tim Psikolog/Konselor dalam hal ini selalu juga melakukan pendampingan kolaboratif untuk menciptakan ekosistem yang aman dan nyaman tanpa perundungan. Sekolah Cikal merupakan sekolah inklusi yang ramah anak, dan anti perundungan! (*)


Baca juga : Sekolah Cikal Terapkan House Group Cegah Bullying! 


Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs (tim Customer Service Cikal)


Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal 

  • Narasumber : Rendra Yoanda, M.Psi, Psikolog 

Rendra Yoanda adalah psikolog klinis anak-remaja yang saat ini aktif sebagai konselor di Sekolah Cikal dan juga sebagai Academic Program Manager untuk program Personal and Social Education (PSE) di jenjang SMP dan SMA Sekolah Cikal. Beliau sudah bekerja dan berinteraksi bersama dengan para remaja selama lebih dari 10 tahun sebagai mentor dan konselor.

  • Editor : Layla Ali Umar 

  • Penulis : Salsabila Fitriana

I'M INTERESTED