Lilya, Murid Sekolah Cikal, Buktikan Disleksia Bukanlah Kekurangan Melalui Lagu “Chosen” Karyanya!

Jakarta, Sekolah Cikal. Banyak orang tua di masa pandemi ini menghadapi tantangan dalam mendampingi anak-anak mereka yang mengidap disleksia. Tak jarang, hadir beragam pernyataan bahwa disleksia adalah kekurangan yang memengaruhi produktivitas dan kreativitas anak mereka. Namun, faktanya, tidak semua anak pengidap disleksia menghadapi hal demikian.


Salah satu bukti nyatanya hadir dari Lintang Ismaya Puteri Santano atau yang akrab disapa Lilya, murid kelas 8 Sekolah Cikal Serpong. Sebagai anak dengan disleksia, ia berhasil menciptakan karya di masa pandemi berupa lagu berjudul “Chosen” atau “Terpilih” sebagai upaya menyemangati sesama remaja pengidap disleksia dan bukti bahwa Disleksia bukanlah kekurangan melainkan hadiah dari Tuhan.


Pengidap Disleksia, Orang-Orang Istimewa


Pemilihan judul lagu Chosen, menurut Lilya, mewakili sebuah pesan utama yakni pengidap Disleksia adalah orang-orang terpilih, dan istimewa.


“Kalau ditanya kenapa memilih judul Chosen, aku ingin menyampaikan bahwa Disleksia itu sebenarnya hadiah dari Tuhan (A Gift from God). Tidak semua orang terpilih dapat hadiah tersebut. Jadi, kita itu spesial, dan terpilih.” tuturnya saat dihubungi oleh Humas Cikal (19/04)


Ia juga menceritakan proses dan tantangan pembuatan lagunya, salah satunya penyusunan lirik. Namun, itu tidak memadamkan semangatnya untuk ciptakan karya yang bermanfaat bagi para pengidap disleksia sepertinya.


“Kalau dalam proses buat lagu, secara umum memang lumayan susah dalam penyusunan melodi dan lirik karena aku pengidap disleksia (gangguan kesulitan belajar spesifik yaitu kesulitan dalam membaca menulis, dan mengeja), di sisi lain aku juga perfeksionis. Bersyukurnya aku di dampingi guru musikku, jadi semua berjalan lancar.” tutur Lilya yang menemukan minat dan bakatnya di bidang Seni, baik puisi, teater, hingga seni musik sejak SD di Sekolah Cikal.


Melalui karyanya, Lilya ingin menyemangati dan menginspirasi teman-teman sebaya seusianya yang juga mengidap disleksia agar tidak merasa rendah diri, dan melihat sisi baik dari Disleksia, bukan sebagai kekurangan melainkan kelebihan.


“Aku berharap melalui lagu ini, teman-teman pengidap disleksia seperti aku dapat tetap percaya diri, dan yang paling penting lihat sisi baik (brightside) sebagai pengidap disleksia. Kalau dari sisi baik, kita akan lebih banyak menemukan peluang, dan hal-hal baik. Kalian pasti bisa percaya diri, dan bisa buat karya juga kaya aku, dan menginspirasi yang lainnya.” harap Lilya.


Sebagai Keluarga Disleksia, Fokus Pada Minat Bakat


Pencapaian Lilya menciptakan lagu ternyata merupakan kejutan bagi orang tuanya. Sebagai Ibu, Rinawantari Soepardi, menyatakan bahwa Lilya selalu memberikan kejutan atas pengembangan dirinya sejak mendapatkan pendidikan Inklusi di Sekolah Cikal.


“Sebetulnya, Lilya ini lebih sering membuat kejutan bagi kami (orang tua). Awalnya ia memang mengajak berdiskusi, tetapi akhirnya itu jadi kejutan, karena kami hanya tahu ia mengerjakan itu. Kami, sebagai orang tua, bersyukur sekali, melihat anak kami di Sekolah Cikal menemukan minat dan bakatnya, karena adanya dukungan yang sangat kuat dari pihak guru dan sekolah.” cerita Ibu Rina.


Ia pun berbagi cerita sebagai keluarga disleksia, Lilya dan 3 saudaranya diperkenankan untuk mengeksplorasi minat dan bakat, serta berdiskusi.


“Sebagai keluarga disleksia, kami sebagai orang tua selalu memberikan hak pada anak untuk mengeksplorasi dan mencoba, “kamu harus coba dulu, kalau nanti ga suka gapapa”. Paling tidak, anak-anak itu jadi tahu. Buat kami proses pembelajaran lebih penting dari hasil.” tutur Ibu Rina.


Sebagai orang tua, Rinawati juga menyampaikan rasa syukur bahwa Sekolah Cikal melalui pendidikan Inklusinya dapat benar-benar memberikan kepercayaan pada Lilya untuk mengeksplorasi minat dan bakatnya dengan kolaborasi dari pihak sekolah, guru, dan murid.


“Bagi kami, sebagai orang tua, kami bersyukur sekali anak dibiasakan untuk bisa menyuarakan apa yang dibenaknya. Proses pembelajaran tidak sama dengan jaman dahulu, dan merefleksikan cinta keluarga.” tambahnya.


Pendekatan Musik, Tingkatkan Percaya Diri


Sebagai remaja yang mengidap Disleksia, Lilya memperoleh dukungan pemenuhan kebutuhan belajar dari Sekolah Cikal dengan berbagai cara, baik penggunaan Audio Book untuk Program Bahasa Indonesia, atau penggabungan program Bahasa dan Visual Arts serta Social Studies melalui proyek.


“Aku selalu konsultasi dengan guru, misalnya boleh tidak ketika harus baca cerpen, aku dibantu oleh temanku, jadi cerpennya berbentuk audio book. Beliau bilang, boleh! Setiap proses selalu diberikan pilihan dan keterbukaan dari guru dan sekolah untuk mempercepat proses belajar, dan memudahkan pemenuhan kebutuhan belajarku.” cerita Lilya.

Sebagai Sekolah Inklusi yang ramah anak, Sekolah Cikal menyediakan berbagai program dimulai sejak usia dini hingga tingkat SMA dengan fokus pada setiap potensi individu, serta berupaya mengoptimalkan keunikan, keragaman, kebutuhan, dan minat murid sebagai individu melalui berbagai pendekatan, salah satunya musik seperti Lilya dan pencapaiannya.

Dari Lilya, kita bisa melihat bahwa seni musik dapat menumbuhkan rasa percaya diri, sarana anak untuk berekspresi dan tentunya melatih kemampuan berbahasanya juga. (*)


Untuk mendengarkan lagu “Chosen” by Lilya :
http://bit.ly/ChosenLilyaSekolahCikal

ENROLL NOW