Prihatin dengan Kasus Perundungan Sekolah yang Marak Terjadi, Sekolah Cikal Rekomendasikan 4 Cara ini Untuk Diterapkan Sekolah-Sekolah Guna Cegah Perundungan!

Durasi Waktu Baca : 4 Menit, 31 Detik 


Jakarta, Sekolah Cikal. Menjadi sekolah yang dikenal ramah anak termasuk anak-anak berkebutuhan khusus di beberapa kota di Indonesia, baik di Jakarta, Bandung, Tangerang Selatan, dan Surabaya. Sekolah Cikal menunjukkan rasa prihatin dengan maraknya kasus perundungan yang masih terjadi di beberapa sekolah saat masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). 


Salah satu Psikolog Klinis Anak dan Remaja Cikal, Rendra Yoanda, M.Psi, Psikolog, menuturkan bahwa ramainya kasus perundungan di beberapa kota di Indonesia pun membuat orang tua murid Cikal pun turut prihatin. 


Menanggapi rasa prihatin terhadap anak-anak yang menjadi korban, Rendra yang merupakan Psikolog Klinis Anak-Remaja di Sekolah Cikal yang dikenal sebagai sekolah anti-bullying dan ramah bagi anak-anak termasuk anak berkebutuhan khusus ini memberikan rekomendasi bagi sekolah lainnya untuk melakukan pengawasan dan penjagaan terhadap aktivitas murid di sekolah dengan beberap acara sebagai berikut, 


  1. TERAPKAN PENGAWASAN DAN PENDAMPINGAN AKTIVITAS MURID SECARA BERKALA 

Sebagai seorang pendidik yang selalu mendampingi proses konsultasi, dan konseling murid, Rendra menuturkan bahwa penting bagi pihak sekolah melakukan pendampingan secara konsisten terhadap interaksi anak di sekolah dan aktivitasnya. 


“Bagi pihak sekolah, penting untuk secara konsisten melakukan pengawasan dan penjagaan atas aktivitas murid-murid di sekolah. Jika ada insiden yang terjadi, fasilitasi mereka untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan memberikan ruang yang aman untuk berdiskusi dan negosiasi. Gunakanlah perspektif disiplin positif dengan memberikan mereka konsekuensi-konsekuensi yang logis, bukan hukuman yang disamaratakan.” jelasnya. 


Di Sekolah Cikal, penerapan disiplin positif menjadi salah satu langkah yang diterapkan di sekolah dalam menyelesaikan masalah sehingga murid-murid pun menjadi lebih terbuka dalam membangun pemikiran-pemikiran yang logis, reflektif, serta bermakna.


Baca Juga  : Penyebab dan Dampak Perundungan Bagi Anak


  1. APABILA ADA POTENSI PERUNDUNGAN, SEGERA TINDAKLANJUTI


Ia juga menyebutkan bahwa apabila sekolah dalam hal ini para pendidik telah melihat adanya potensi perundungan di sekolah, maka tentu harap segera ditindaklanjuti dan tidak didiamkan. 


“Apabila melihat ada potensi perundungan, segeralah ditindaklanjuti. Pembiaran justru akan memberikan kesempatan bagi perundungan untuk tumbuh subur. Berikan arahan dan batasan yang jelas apabila kita ingin memberikan mandat kepada panitia murid, misal melalui OSIS. Berikan kesempatan juga pada mereka untuk bertanya dan berdiskusi lebih lanjut terkait arahan dan batasan tersebut agar setiap panitia murid memiliki pemahaman yang sama.” tambahnya. 


Baca Juga : Rekomendasi Konsekuensi Pelaku, Saksi, dan Korban Perundungan 

  1. BENTUK SISTEM DUKUNGAN DAN PENANGANAN PERUNDUNGAN 


Sebagai seorang Psikolog, Rendra juga menekankan pentingnya membuat sistem dukungan dan penanganan perundungan yang sistematis dan kolaboratif demi menjaga dan menciptakan ekosistem lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak. 


“Buatlah sistem dukungan dan penanganan terkait dengan perundungan. Pastikan semua entitas yang ada di sekolah, mulai dari pimpinan, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, murid, hingga orang tua memiliki pemahaman yang sama mengenai perundungan. Selain itu, semua entitas yang ada di sekolah juga bisa memahami apa yang perlu mereka lakukan jika mereka menyaksikan ataupun menjadi sasaran perundungan.” ucapnya. 


Ia juga menuturkan bahwa sekolah perlu menyampaikan dengan detail kepada murid dan bahkan orang tua. 


”Setelah membetuk sistem dukungan, berikan gambaran sistem penanganan atau dukungan sekolah yang terkait dengan aktivitas yang akan diberikan mandat tersebut, termasuk kontak pihak sekolah yang bisa segera mereka hubungi. Sampaikan pula titik kulminasi di mana mereka perlu untuk segera mengakses sistem dukungan atau penanganan tersebut karena secara perkembangan psikologis-emosional ataupun secara legal mereka belum bisa mengambil keputusan dalam isu atau aktivitas tertentu.” tuturnya. 


Baca Juga : Dikenal Sekolah Anti-Bullying, Sekolah Cikal Terapkan 3 Gerakkan Kolaborasi. Ada Kelompok House Seperti di Harry Potter!

  1. LAKUKAN EVALUASI DAN REFLEKSI SECARA KONSISTEN


Sebagai lembaga pendidikan, sekolah dalam hal ini melalui para pendidik, tim konselor dan kepala sekolah perlu dengan konsisten melakukan evaluasi dan refleksi kegiatan di sekolah, dan keamanan interaksi anak. 


“Evaluasi dan refleksi kegiatan juga perlu dilakukan secara konsisten agar setiap panitia murid bisa memahami apa yang sudah berjalan baik dan sesuai harapan, serta aspek-aspek mana saja yang perlu ditingkatkan. Hal ini bisa membantu para murid untuk memahami koridor perilaku yang dibolehkan oleh sekolah, selain untuk membangun kemandirian para murid.” tambahnya. 


Di akhir, ia pun menegaskan bahwa sekolah harus dapat menjadi zona nyaman dan menghadirkan ekosistem pembelajaran, pertumbuhan dan interaksi anak yang nyaman, aman dan inklusif. 


“Perlu dipahami juga bahwa perundungan tidak hanya terjadi antara murid, namun bisa juga terjadi dari guru ke murid atau sebaliknya, pimpinan sekolah ke guru dan staf di sekolah atau sebaliknya, orang tua ke murid/guru dan sebaliknya, ataupun antar entitas lainnya yang berada di komunitas sekolah. Oleh karena itu, sekali lagi, sekolah harus secara konsiten mendampingi, dan menjaga anak-anak di sekolah.” tukasnya. 


Di Sekolah Cikal sendiri, sejak dini telah dihadirkan berbagai pendekatan, cara dan langkah pembiasaan bagi murid-murid untuk menjadi pribadi yang lebih bijak dan empati, baik melalui program Personal, Social and Education (PSE), program Mindfulness, Cikal Aksi-Aksi hingga House Group yang semuanya dibentuk untuk membuat anak menjadi pribadi yang lebih berpikiran terbuka dan selalu peduli terhadap teman-temannya, sehingga di Sekolah Cikal setiap anak dapat bertumbuh, belajar dan berinteraksi tanpa rasa takut, aman, dan nyaman, termasuk juga bagi anak-anak berkebutuhan khusus.  (*)



Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs (tim Customer Service Cikal)


Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal 

  • Narasumber : Rendra Yoanda, M.Psi, Psikolog 

Rendra Yoanda adalah psikolog klinis anak-remaja yang saat ini aktif sebagai konselor di Sekolah Cikal dan juga sebagai Academic Program Manager untuk program Personal and Social Education (PSE) di jenjang SMP dan SMA Sekolah Cikal. Beliau sudah bekerja dan berinteraksi bersama dengan para remaja selama lebih dari 10 tahun sebagai mentor dan konselor.

  • Editor : Layla Ali Umar 

  • Penulis : Salsabila Fitriana

I'M INTERESTED