Durasi Waktu Baca : 2 Menit Jakarta, Pendidkan Inklusi Cikal. Dalam keluarga dengan anak berkebutuhan khusus, saudara sekandung ABK seringkali belum menyadari keunikan, kebutuhan belajar, serta cara berkembang yang diperlukan oleh saudaranya yang memiliki kebutuhan khusus. Sehingga, seringkali saudara sekandung ABK merasa bahwa ABK tidak sama dengannya dan menganggap ABK yang ada di dalam keluarga seperti orang lain. Ahli Pendidikan Inklusi dari Sekolah Cikal yang juga merupakan Coordinator AssociatePendidikan Inklusi Cikal, Muthia Devita, menyikapi kondisi yang seringkali terjadi tersebut dengan memberikan pandangan bahwa orang tua dalam hal ini berperan penting dalam proses pengenalan dan pendampingan bagi kedua anak yang memiliki kebutuhan belajar dan bertumbuh yang berbeda, baik anak dengan kebutuhan reguler dan anak dengan kebutuhan khusus. “Banyak orang tua dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memang belum menyadari bahwa saudara sekandung memiliki peran yang sangat signifikan dalam proses tumbuh kembang ABK.” ucapnya. Muthia pun menuturkan bahwa terdapat 2 cara dasar yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk dapat membiasakan anak-anak untuk memahami satu sama lain, khususnya dalam konteks ini anak dengan kebutuhan reguler dan saudara sekandungnya yang berkebutuhan khusus. Apa saja itu? Berikut penjelasannya. Belum sadarnya anak dengan kebutuhan reguler terhadap keunikan saudara sekandungnya yang berkebutuhan khusus boleh jadi terjadi karena belum optimalnya kesadaran orang tua untuk mengenalkan dan mendukung pemahaman satu anak dengan anak lainnya. Oleh karena itu, Muthia menuturkan bahwa kesadaran orang tua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus harus dikuatkan untuk mendukung proses pengenalan dan pendampingan ABK dan Saudara Sekandungnya saling memahami dan menerima satu sama lain. “Penerimaan Saudara Sekandung terhadap ABK itu dimulai dari kesadaran orang tua dalam membantu kedua anaknya untuk saling memahami dan menerima satu sama lain. Pendekatan pengenalan peran saudara sekandung ABK pun sebaiknya dimulai dari pembangunan kesadaran orang tua, bukan dari tuntutan peran.” jelasnya. Ia juga mengatakan bahwa dengan arahan yang tepat dan bukan menuntut, maka akan tercipta penerimaan terhadap ABK dalam keluarga. “Dengan memberikan arahan yang tepat dan menciptakan lingkungan yang mendukung, maka ABK dan Saudara Sekandungnya akan saling memahami dan menerima satu sama lain.” tambahnya. Setelah mencoba langkah awal yang berfokus dari diri orang tua, orang tua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus dapat berupaya untuk memberikan edukasi terkait kegiatan, kebiasaan, dan kebutuhan sehari-sehari anak yang memiliki kebutuhan khusus terhadap saudara sekandungnya, dan sebaliknya. Misalnya, cara ABK menunjukkan emosinya, Cara ABK membutuhkan rasa aman dari Saudara Sekandungnya, dan lainnya. Tujuan akhirnya adalah menghadirkan pemahaman dan pengertian satu sama lain untuk ciptakan rasa aman dan penerimaan. “Melalui Edukasi yang berkaitan di kehidupan sehari-hari ; seperti bagaimana saudara sekandung membantu regulasi emosi ABK, bagaimana interaksi bermain sederhana dapat menjadi latihan sosial emosional, dan bagaimana kehadiran saudara memberi rasa aman.” imbuhnya.(*) Baca Juga : 2 Peran Penting Saudara Sekandung untuk Optimalisasi Hidup Anak Berkebutuhan Khusus Mengenal Visual Art Vocational Program Bagi ABK di Sekolah Cikal Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal Narasumber : Muthia Devita, Pendidikan Inklusi Cikal Lebak Bulus jenjang SMP dan SMA Coordinator Associate Editor : Layla Ali Umar Penulis : Salsabila FitrianaKuatkan Kesadaran Orang Tua untuk Dampingi ABK dan Saudara Sekandung Saling Memahami
Memberikan Edukasi Kegiatan, Kebiasaan dan Kebutuhan Sehari-Hari ABK dan Saudara Sekandungnya
Informasi Cikal Support Center