Bukan Sekolah Berbasis Agama, Berikut 3 Cara Sekolah Cikal Terapkan Pendidikan Agama dalam Proses Belajar dan Interaksi!


Estimated reading time: 3 minutes, 9 seconds.


Surabaya, Sekolah Cikal. Dilahirkan pada tahun 1999, Sekolah Cikal yang kini telah ada di berbagai kota besar di Indonesia, yakni Jakarta, Tangerang Selatan, Bandung, dan Surabaya, masih menjadi pilihan utama bagi para orang tua yang ingin anak-anaknya meraih pendidikan berbasis kompetensi untuk masa depan.


Baca juga : Sekolah Cikal Miliki 5 Program Bahasa Asing dari Korea hingga Jerman!


Sekolah Cikal juga dikenal tetap unggul menjadi pilihan walaupun bukan merupakan sekolah yang berbasis keagamaan. Penasaran kenapa Sekolah Cikal tidak dibentuk sebagai sekolah berbasis agama,namun tetap menjadi pilihan bagi banyak orang tua? Simak caranya berikut! 


Pertama, Ekosistem Belajar dan Interaksi Mewakili Kehidupan yang Beragam


Dalam praktik keseharian di Sekolah Cikal, suasana belajar dan beribadah diciptakan dengan baik untuk mewakili kehidupan nyata sebenarnya: kehidupan Indonesia yang merupakan negara yang multikultural dari budaya, ras, maupun agama. 


“Kami tidak mengkategorikan Cikal sebagai sekolah agama karena kami ingin kehidupan di Cikal, baik proses belajar mengajarnya, serta interaksi yang dibangun di dalamnya semirip mungkin dengan kehidupan nyata. Di kehidupan nyata, kita semua hidup bersama, meskipun berbeda agama, pendapat, atau berbeda kepercayaan. Di Cikal,  anak-anak sejak dini telah belajar hidup dalam keberagaman itu.” tutur Najelaa sebagai pendiri dalam video 22 pertanyaan tentang Cikal melalui kanal YouTube Sekolah Cikal Official. 


Kedua, Proses Pembelajaran Agama di Sekolah Cikal Berbasis Kontekstual 


Proses pembelajaran di Sekolah Cikal yang menghadirkan setiap program agama sesuai yang dianut oleh murid, baik Islam, Hindu, Buddha, Kristen, dan Katolik dijalankan dengan pendekatan kontekstual. Dalam hal ini, murid-murid akan diajak untuk membahas pemahaman keagamaan dan mengaitkannya dengan berbagai kondisi nyata di sekitar mereka. 


Salah satu contoh pembelajaran berbasis kontekstual hadir dari Program Agama Buddha di Sekolah Cikal, Dwi Wahyuningsih selaku pendidik program agama Buddha di Sekolah Cikal Serpong menyatakan bahwa penerapan pembelajaran berbasis kontekstual dihadirkan melalui Jurnal Perbuatan Baik dan Buruk di jenjang kelas 1 SD.


“Sebagai contoh di kelas 1, ada jurnal perbuatan baik dan buruk.  Jadi, murid dapat melakukan refleksi setiap perbuatan yang sudah dilakukan, dan kemudian nanti didiskusikan bersama. Bagaimana perasaannya setelah berbuat baik maupun buruk. Dari diskusi tersebut, kita ingatkan lagi bahwa perbuatan buruk merupakan perbuatan tidak baik atau tercela, sebaiknya dihindari. Lalu, kita minta murid untuk menuliskan  tekadnya untuk menghindari perbuatan buruk tersebut. Diharapkan dengan pembiasaan refleksi ini, murid terbiasa menghindari perbuatan buruk yang merugikan.” ucap Dwi. 


Baca juga 

Ketiga, Mengasah Kompetensi Berpikiran Terbuka Murid Cikal 


Sebagai Pendidik Program Agama Islam, Mirwan Abdul Aziz menyatakan bahwa dalam praktik beribadah murid tidak hanya memahami teori melainkan juga melakukan proses refleksi mendalam yang membuat mereka akan memahami esensi dan berpikiran terbuka dalam menerima informasi. 


“Kalau dari sisi thinking skills, anak-anak ini sudah membuktikan bahwa dalam proses belajar, setiap anak tidak hanya menerima informasi yang bisa saja keluar dari kepalanya, atau dari orang lain, tetapi ia juga berpikir mendalam  ketika menerima informasi tersebut.” ucap Mirwan. 


Dalam praktiknya keseharian pula, Wilhelmus Soka Mono Nggona, (Pendidik Program Agama Katolik, Sekolah Cikal) menambahkan bahwa nilai-nilai pembelajaran agama yang diajarkan di Sekolah Cikal pun bersifat universal sehingga kemampuan murid untuk berpikiran terbuka pun terasah dengan baik dan terlengkapi dengan nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan sebagai manusia yang menghargai sesama manusia. 


“Tentunya pelajaran agama di Sekolah Cikal, dalam hal ini Agama Katolik, ajarannya  tidak terlepas dari nilai-nilai universal yang ada seperti cinta kasih, jujur, bertanggung jawab, peduli, santun, mencintai kehidupan dan perdamaian dan menghargai satu sama lain.” tutup Willy. (*)


Baca juga : Berkunjung ke Sekolah Cikal Serpong, Biksu Chuan Xiu Berbagi Pengetahuan, dan Pesan Kebaikan pada Murid




Tanyakan program dan pendaftaran Sekolah Cikal sebagai sekolah berbasis kompetensi dan personalisasi pertama di Indonesia melalui : bit.ly/bukutamucikal




Artikel ini diproduksi oleh Tim Digital Cikal

Editor : Layla Ali Umar dan Stephani Tara Hestiningtyas

Penulis : Salsabila Fitriana 


I'M INTERESTED