Menyekolahkan Anak Berkebutuhan Khusus Pertama Kalinya? Simak 3 Hal yang Harus Diperhatikan Dari Psikolog Cikal!

Durasi Waktu Baca : 3 Menit, 33 Detik 



Jakarta, Pendidikan Inklusi Cikal.Memilih langkah menyekolahkan anak dengan kebutuhan khusus untuk pertama kalinya di sekolah inklusi atau sekolah luar biasa tentu merupakan sebuah pilihan yang memerlukan perhatian khusus  dan mendetail untuk dipertimbangkan oleh para orang tua. Perhatian itu akan mencakup hal-hal yang terkait dengan kebutuhan khusus anak dan penerimaannya terhadap lingkungannya. 


Vitriani Sumarlis, M.Psi, Psikolog yang merupakan Psikolog dan Wakil Kepala Kurikulum Pendidikan Inklusi Cikal menyatakan bahwa orang tua harus mengamati setiap proses yang akan dialami dan dirasakan oleh anak sebelum menyekolahkan anak di sekolah luar biasa atau sekolah inklusi. Terdapat 3 hal yang harus diamati dan dipahami secara mendalam terhadap anak sebelum menyekolahkannya, sebagai berikut:


Pertama, Daya Tahan Anak Berkebutuhan Khusus Untuk Indikator Optimalisasi Pengembangan Dirinya


Vitriani menuturkan bahwa dalam proses awal pengenalan lingkungan sekolah yang bersifat inklusif dan atau sekolah luar biasa, daya tahan anak berkebutuhan khusus dalam hal ini akan memengaruhi optimalisasi pengembangan dirinya dalam setiap fase penyesuaian diri dengan lingkungannya, termasuk dengan guru dan teman-teman. 


“Saat anak dengan kebutuhan khusus pertama kali sekolah, para guru akan melihat proses penyesuaian diri mereka. Apakah anak bisa menjalani proses separasi dari orang tua atau pengasuh? Penyesuaian tersebut dapat diamati dari respon anak terhadap guru yang menyambut dan mengajar, teman-teman sekelas maupun anak-anak di lingkungan sekolah secara umum, serta lingkungan fisik dari sekolah. Oleh karena itu, hal yang perlu diperhatikan adalah daya tahan anak untuk berada di sekolah. Daya tahan akan mempengaruhi pula proses anak untuk menerima dan mengikuti pembelajaran dengan optimal.” jelas Vitri. 


Bagi anak-anak usia dini yang memiliki kebutuhan khusus, Vitriani menyebutkan bahwa daya tahan tubuh anak akan dilihat dan diobservasi lebih dulu melalui program “Early Intervention” yang memang dikhususkan bagi anak-anak usia dini di Rumah Main Cikal. 


“Dalam bentuk aktivitas yang lebih terstruktur, Pendidikan Inklusi Cikal memiliki kegiatan Early Intervention, dengan durasi yang lebih lama 6 bulan sampai 1 tahun, untuk mempersiapkan anak dengan kebutuhan khusus yang belum pernah sekolah, atau memiliki pengalaman “sekolah”. Pada kegiatan ini, anak akan dikenalkan mengenai rutinitas sederhana di kelas, instruksi sehari-hari yang biasa diberikan, serta aturan sederhana yang akan mereka ikuti. Situasi pembelajaran kegiatan ini memadukan pendekatan individual dan kelompok kecil.” ucap Vitriani.


Baca juga : Cara Sekolah Cikal Sebagai Sekolah Inklusi Mengasah Kecerdasan Emosional Anak : Ada Program Khusus yang Jadi Favorit Anak-Anak!




Kedua, Kepekaan Anak Berkebutuhan Khusus Terhadap Rangsangan Sebagai Indikator Kenyamanan Anak dalam Proses Belajarnya 


Ia juga memberikan pengingat bahwa dalam beberapa kondisi, kepekaan anak yang berlebihan terhadap rangsang juga perlu diperhatikan, sehingga penting untuk disampaikan kepada sekolah atau pendidik yang akan berinteraksi dan mendampingi langsung proses belajarnya. 


“Pada beberapa anak yang memiliki kepekaan yang berlebihan terhadap rangsang cahaya, suara, atau gerak, mereka membutuhkan waktu untuk dapat merasa nyaman di lingkungan sekolah maupun kelas tempatnya belajar.” ucapnya. 


Dalam hal ini, Sekolah Cikal melalui lini Pendidikan Inklusi Cikal akan membangun kolaborasi dan komunikasi dengan orang tua dan juga anak untuk pendampingan yang mendetail terhadap anak dengan menghadirkan akomodasi belajar, baik itu secara individual, kelompok kecil, dan atau kelompok besar untuk anak setelah masa penyesuaian diri. 


Baca juga : Memahami Lebih Dalam Sekolah Inklusi dan Kelebihannya!




Ketiga, Respon Anak Berkebutuhan Khusus Secara Keseluruhan Saat Mengikuti Proses Belajar 


Hal ketiga yang perlu diperhatikan adalah mengenai respon anak saat merasakan secara langsung proses belajar, baik saat menerima instruksi, diskusi bersama guru, dan lain sebagainya. 


“Hal lain yang perlu diperhatikan oleh orang tua dan juga guru saat pertama kali menyekolahkan anak berkebutuhan khusus nantinya adalah melihat respon anak secara keseluruhan terhadap pembelajaran, untuk mengetahui kesiapan belajar anak. Misalnya, bagaimana kepatuhan anak terhadap gurunya, kemampuan anak untuk mengikuti instruksi, atensi dan konsentrasinya, serta penyelesaian tugas.” tuturnya. 


Di Sekolah Cikal sendiri dalam praktiknya, ia menyebutkan bahwa respon anak dapat terlihat dari momen masa pengenalan sekolah atau orientasi (commencement week) sebagai awal mula interaksi dibangun, dan pengenalan cakupan lainnya seperti konsep, rutinitas, media komunikasi dan visualisasi pembelajaran yang akan diperoleh.


“Di masa-masa awal sekolah, anak-anak ini perlu dikenalkaln dengan lingkungan sekolah beserta para guru yang akan mengajar atau berinteraksi dengan mereka. Masa orientasi yang biasanya dilakukan di awal tahun ajaran akan sangat membantu. Meskipun demikian, beberapa anak membutuhkan orientasi yang lebih dulu lagi sebelum mereka benar-benar datang ke sekolah. Pada anak-anak tersebut, akan disediakan waktu lebih awal sebelum hari pertama masuk sekolah.” ucapnya. 


Nah, jadi perlu diperhatikan ya bagi para orang tua bahwa terdapat 3 hal yang harus diperhatikan apabila anak dengan kebutuhan khusus akan masuk sekolah atau merasakan lingkungan sekolah pertama kalinya. (*)


Baca juga : 




Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal bagi anak berkebutuhan khusus melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs (tim Customer Service Cikal)




Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal 

  • Narasumber : Vitriani Sumarlis, M.Psi, Psikolog
  • Editor : Layla Ali Umar 
  • Penulis : Salsabila Fitriana

I'M INTERESTED