Hadirkan Pameran Theory of Knowledge, Sekolah Cikal Asah Kemampuan Analisis Kritis Murid

Jakarta, Sekolah Cikal. Menciptakan proses pembelajaran bermakna di masa pandemi yang sebenarnya adalah bukan hanya memberikan tugas  dan mengumpulkan tugas, melainkan mengasah kemampuan analisis kritis murid dengan menghadirkan proyek bermakna yang bersifat kontekstual berbentuk pemecahan masalah dan analisis mendalam seperti yang dilakukan di Sekolah Cikal-Amri Setu.


Melalui framework International Baccalaureate (IB), Sekolah Cikal-Amri Setu menghadirkan pameran Theory of Knowledge (TOK Exhibition), sebagai rangkaian asesmen program belajar Theory of Knowledge yang berfokus pada pengembangan analisis kritis dan hubungan antara kerangka konseptual dan ilmu pengetahuan bagi kelas 12 pada 10-17 September 2021 dengan tema “Questioning questions: To know the world, know thyself.”


(Pameran Theory of Knowledge Sekolah Cikal-Amri Setu dilakukan melalui sosial media Instagram @cikal.tok sejak tanggal 10-17 September 2021. Dok. Cikal)


Mempertanyakan Kebenaran Pengetahuan 


Menurut Dita Anissa Johar, atau yang akrab disapa Dita, selaku ketua pelaksana pameran TOK dan juga pendidik program TOK di Sekolah Cikal. Program belajar TOK menjadi salah satu program belajar di Cikal yang membahas mengenai hakikat ilmu pengetahuan yang juga berkaitan erat dengan epistemologi.


“Proses belajar ini lebih dari sekadar menghafal fakta, dan menulisnya dalam ujian. Mengembangkan kompetensi cerdas dalam diri murid itu adalah tentang membangun pemahaman tentang pengetahuan itu sendiri dan penerapannya dalam kondisi kehidupan nyata. Inilah tujuan dari program Teori Pengetahuan (Theory of Knowledge) yang terkait erat dengan Epistemologi sebagai cabang dari filsafat yang membahas mengenai pengetahuan, mencakup sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, sifat-sifat dan kebenaran dari pengetahuan itu sendiri di Sekolah Cikal.” tutur Dita. 



(Pameran program TOK Sekolah Cikal-Amri Setu mengembangkan sisi analisis kritis murid dengan membangun pertanyaan refleksi. Dok.Cikal) 


Sebagai Head of School Cikal, Tari Sandjojo menyampaikan bahwa program TOK sendiri berarti mengasah kemampuan murid untuk mempertanyakan beragam pertanyaan itu sendiri, dan memahami diri sendiri sebelum memahami hal atau orang lain dalam dimensi kecerdasan, reflektif, dan komunikatif. 

“Murid-murid tidak hanya belajar tentang subyek tertentu, tapi juga memahami diri sendiri. Murid diberikan kesempatan untuk eksplorasi berbagai hal, dari teknologi, sejarah, dan bahasa, dan merefleksikan hal-hal ini berkaitan dengan cara berpikir, value and believes, kemudian alasan personal diri “mengapa kamu melakukan hal yang kamu lakukan, dan juga mengapa orang lain melakukan yang mereka lakukan” yang mengasah kecerdasan, kemampuan melakukan refleksi, dan komunikasi dalam sebuah wacana analisis kritis.“ tutur Tari Sandjojo. 

Hubungkan Pengetahuan dengan Kejadian Sekitar 


Pameran TOK yang digelar oleh Sekolah Cikal-Amri Setu ini juga dilakukan sebagai rangkaian asesmen program belajar TOK bagi murid kelas 12 yang memilih program ini. Mereka membahas tiga tema besar antara lain, pengetahuan dan teknologi (Knowledge and Technology), pengetahuan dan bahasa (Knowledge and Language), serta pengetahuan dan pelajar (Knowledge and The Knower) dan membangun hubungan konseptual dari segi metode, perspektif dan etik yang dikaitkan dengan kehidupan nyata. 


Knowledgeand the knower membahas mengenai bagaimana koneksi antara pengetahuan (knowledge) dan manusia sebagai knower dalam memproduksi dan mendapatkan knowledge. Lalu, knowledge and language: koneksi antara bahasa dan pengetahuan. Apakah pengetahuan yang kita miliki dan produksi terpengaruh oleh bahasa yang kita gunakan? Dan sebaliknya. Topik terakhir, knowledge and technology: koneksi antara pengetahuan dan perkembangan teknologi. Bagaimana pengaruh perkembangan teknologi terhadap pengetahuan kita.” jelas Dita, pendidik program Theory of Knowledge Sekolah Cikal-Amri Setu.


(Beberapa murid Sekolah Cikal-Amri Setu mengeksplorasi gagasannya dalam TOK Exhibition. Dok. Cikal)


Ia pun juga menambahkan bahwa hasil luaran analisis mendalam dari pilihan satu konteks kejadian dan menghubungkannya akan dipresentasikan dalam beberapa bentuk, baik dalam bentuk video, poster, dan esai melalui kanal sosial media, Instagram (@Cikal.tok).

 

Menurut Thalita Nadira Izza Senen, murid kelas 12 Sekolah Cikal-Amri Setu, pengalaman pembelajaran TOK bukan hanya sekadar belajar melainkan memperkaya diri sebagai individu yang membangun gagasan bermakna setiap waktu. 


“Sebagai salah satu program subjek dari IB yang berfokus pada konsep pengetahuan, saya sangat menyukai program dan pameran Theory of Knowledge, karena kita sebagai murid akan selalu membangun dan memperoleh diskusi yang penuh gagasan, serta bermakna setiap waktu. Segalanya dalam program ini dapat diterapkan dan menjadi program yang bersifat multidisipliner dengan berbagai program lainnya di sekolah.”ucap Izza. 


(Dalam sesi pameran virtual, murid-murid menampilkan analisis mereka dalam 3 bagian publikasi yakni obyek, video, dan pemantik (prompt). Dok. @Cikal.TOK)


Selain Izza, ada pula Mehrunissa Raeka yang mengatakan bahwa melalui program dan pameran TOK, murid dapat mengasah kemampuan melakukan kontemplasi bermakna dari hal yang tidak diketahui, serta menemukan makna yang lebih dalam dari yang sudah diketahui. 


“Pengalaman di Pameran TOK ini luar biasa. Kita sebagai murid menemukan pengetahuan bermakna melalui proses kontemplasi dalam hal yang kita yang tidak tahu, dan mengetahui yang kita telah ketahui.” tutup Mehrunissa Raeka (*)

I'M INTERESTED