Orang Tua, Ketahui Pentingnya Bangun Pola Komunikasi Kepada Anak Tanpa Kata “Jangan”

Durasi Waktu Baca : 3 Menit, 32 Detik 



Surabaya, Rumah Main Cikal. Pola pengasuhan anak usia dini di masa kini seiring waktu menghadirkan pola yang lebih bermakna dan lebih berorientasi pada kenyamanan dan kesehatan mental anak.  


Pendidik Prasekolah Rumah Main Cikal Surabaya, Kanaya Bella Safitri atau yang akrab disapa Tante Kanaya menyampaikan bahwa dengan dukungan media sosial, orang tua muda kini dapat semakin mudah dalam memahami hal-hal esensial dalam praktik pola pengasuhan anak dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya ketika membahas mengenai penerapan pengasuhan anak dalam berkomunikasi tanpa menggunakan kata “jangan”. Seperti apa detailnya mengenai ini? Simak penjelasannya di bawah ini: 

PENTINGNYA KOMUNIKASI TANPA KATA “JANGAN”, AJARKAN ANAK MEMAHAMI SITUASI DAN KONDISI


Kanaya menyampaikan bahwa membentuk pola penyampaian komunikasi tanpa kata “jangan” dapat mendorong anak untuk lebih berani mengelaborasi pertanyaan dan memahami alasan boleh atau tidaknya suatu hal ia lakukan dengan situasi dan kondisi yang ada saat itu. 


“Studi psikologi menunjukkan bahwa anak-anak yang orang tuanya berbicara kepada mereka dan menjelaskan hal-hal yang terjadi di situasi sehari-hari, akan menjadikan mereka kaya akan kosa kata dan lebih mudah memahami dan menerima pembicaraan orang tua.” ucap Kanaya. 


Apabila orang tua selalu membangun komunikasi dengan anak dengan kata jangan yang selalu berulang, anak pun akan merasa terbatas pergerakannya, bahkan merasa kesulitan dalam menjelaskan suatu keadaan di masa mendatang. 


”Jika kita hanya berkata “tidak”, “jangan”, atau “gak” terus-menerus, ini juga berpengaruh terhadap perkembangan kosakata yang mereka miliki dan mereka di masa yang akan datang juga cenderung akan kesulitan dalam menjelaskan situasi dan mengelaborasi sebuah hal kepada orang-orang disekitarnya.” tambahnya. 




“Pola komunikasi tanpa kata “jangan” ini mendukung pengembangan anak usia dini  berpikir kritis”

Kanaya Bella Safitri, Pendidik Rumah Main Cikal




Dalam kondisi dan alasan tersebut, tentu menjadi sebuah hal yang tepat untuk menerapkan pola komunikasi tanpa kata “jangan”, Kanaya mengingatkan pada orang tua untuk memperhatikan pola komunikasinya kepada anak. 


“Mengacu pada hal tersebut, kita tentu sebagai orang tua tidak dapat meremehkan pola komunikasi yang kita bentuk kepada anak, kita harus memiliki kemampuan untuk menjelaskan secara perlahan, jelas, dan mudah dimengerti sesuai dengan tahapan perkembangan usia anak masing-masing.”tuturnya. 


Baca juga : Pentingnya Menumbuhkan Empati Pada Anak Usia Dini




MANFAAT TERAPKAN POLA KOMUNIKASI TANPA KATA “JANGAN”


Sebagai pendidik yang memahami pendidikan anak usia dini di jenjang Prasekolah, Kanaya menyebutkan manfaat terbesar yang dapat tumbuh dalam diri anak usia dini apabila orang tua menerapkan pola komunikasi tanpa kata “jangan” adalah menumbuhkan kemampuan berpikir kritis anak usia dini. 

“Anak-anak sejatinya dapat berpikir dengan baik, namun yang memberikan intruksi dan larangan pun juga harus dapat memberikan komunikasi yang jelas dan baik kepada anak agar mudah dimengerti dan diterima oleh anak. Pola komunikasi tanpa kata “jangan” ini, membantu perkembangan anak dalam berpikir kritis dalam kegiatan sehari-hari. Anak tidak hanya menerima perintah ataupun larangan namun ia juga mendapat alasan yang jelas mengapa ia tidak boleh melakukan hal tersebut.” jelasnya. 

Penting untuk diperhatikan bahwa apabila orang tua melarang anak secara berulang dengan kata “jangan”, atau “tidak” anak seiring waktu akan merasa bingung, bahkan frustasi dalam melakukan hal yang ingin dilakukan setelahnya apabila dilarang terus menerus?

“Saat kita melarang anak untuk tidak membiarkan mainannya berserakan, apabila kita hanya memarahi anak dan berkata “jangan berantakan begitu!” atau “jangan bermain disini!”, anak cenderung sulit menerima pola komunikasi demikian dan bingung karena perintah yang tidak jelas, “apakah saya tidak boleh bermain?”” ucap Kanaya dengan sebuah ilustrasi. 

Menurut Kanaya, apabila orang tua mulai mengubah pola komunikasinya dengan lebih positif meskipun mengandung larangan, anak pun akan memahami alasan hingga aksi yang harus dilakukan olehnya. 

“Namun, apabila kita dapat mengganti kata “jangan” secara positif,  anak pun akan semakin memahami apa yang harus dilakukan kemudian. “Adik, kamu boleh bermain tapi tolong dirapikan ya karena ibu mau menyapu nanti mainan kamu tersapu dan hilang.” Anak akan cenderung lebih mendengarkan dan melakukan larangan tanpa kata “jangan” dan nada yang negatif.” tukasnya. 

Nah, dari penjelasan Tante Kanaya, Pendidik Rumah Main Cikal Surabaya, kira-kira Papa dan Mama sudahkan menerapkannya belum? Atau papa mama akan mencoba untuk menerapkannya? Selamat mencoba menerapkan pola komunikasi tanpa kata “jangan” ya! (*)


Baca juga : Bolehkah Orang Tua Bersedih di Hadapan Anak? Simak Dulu Sisi Positif dan Negatifnya!




Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal bagi anak berkebutuhan khusus melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs (tim Customer Service Cikal)




Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal 

  • Narasumber : Kanaya Bella Safitri 
  • Editor : Layla Ali Umar 
  • Penulis : Salsabila Fitriana

I'M INTERESTED